AGI : Pemerintah Tidak Perlu Impor Gula

proses-produksi-gula-dalam-pabrik-ilustrasi-_140110202852-795

SI,Jakarta– Asosiasi Gula Indonesia menegaskan bahwa persediaan gula nasional sampai saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga kebijakan impor dirasakan tidak perlu.

Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Adig Suwandi di Surabaya, Selasa (11/2), mengatakan pada Republika, stok gula nasional per 31 Desember 2013 mencapai 1,24 juta ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tiba masa giling sebagian besar pabrik gula di Pulau Jawa pada Mei 2014.

“Jumlah stok itu belum termasuk produksi pabrik gula di Sumatera yang melakukan giling pada Februari hingga Mei dengan proyeksi gula sekitar 180.000 ton,” katanya.

Selain itu, lanjut Adig, masih ditemukan gula rafinasi yang merembes di pasar lokal, baik yang terdeteksi melalui audit tim independen sebanyak 110.000 ton maupun yang tidak terdeteksi.

larangan penjualan gula rafinasi di pasar domestik sebenarnya telah dibahas dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527/MPP/Kpts/9/2004 dan masih berlaku hingga kini. Pasar domestik haruslah menjadi ranah gula petani.

“Kalau Perum Bulog diharapkan berperan sebagai stabilisator harga dalam negeri, idealnya BUMN ini membeli gula dari pabrik gula atau petani dengan harga sesuai mekanisme pasar,” ujar Adig, yang juga Sekretaris Perusahaan PTPN XI (BUMN pengelola 16 pabrik gula).

Menurut ia, penambahan stok oleh Perum Bulog bukan dengan mengimpor gula kristal putih secara langsung dari pasar global atau mendatangkan “raw sugar” (gula kristal mentah) untuk kemudian diolahkan ke pabrik gula rafinasi maupun membeli gula rafinasi dari pasar domestik. “Kebijakan atau cara seperti itu justru tidak bisa diterima kalangan petani tebu dan pabrik gula,” tambahnya.

AGI berpendapat bahwa penambahan stok melalui salah satu dari ketiga cara tersebut berpotensi mengacaukan harga gula petani, baik sekarang maupun pada masa giling.

(www.republika.co.id)