AGI: Masih Ada Asa Bagi Industri Gula di Jawa

capture-20150914-120447

SI,Yogyakarta-Dalam seminar nasional “Masih Ada Asa Bagi Industri Gula di Jawa” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Gula Indonesia (AGI) dan Ikatan Ahli Gula Indoenesia (IKAGI), 10 September 2015 di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, secara lugas Direktur AGI, Tito Pranolo, menjelaskan beberapa kondisi aktual pergulaan indonesia. Pertama, daya saing industri gula nasional masih begitu lemah.

“Hal tersebut tercermin dari harga atau biaya pokok produksi di pabrik dan di kebun yang masih banyak di atas Rp 6.000/kg, bahkan masih ada yang di atas Rp 9.000/kg gula”, jelas Tito Pranolo.

Kedua, kualitas gula dalam negeri belum stabil, padahal tuntutan konsumen sudah bergeser menuju gula premium. Ketiga, produksi gula nasional dari tahun ke tahun tidak bergeming disekitar 2,5—2,6 juta ton, dan produkivitas disekitar 5,5 ton gula/ha. Menurutnya, tak lain persoalan tersebut disebabkan oleh beberapa fenomena, yaitu pertama, budidaya yang belum “tepat” baik teknologi maupun penerapannya sehingga produktivitas relatif rendah dan biaya produksi tinggi. Kedua, lemahnya penerapan manajemen logistik tebang muat angkut yang menjadikan kehilangan gula lebih dari 15%.

“Tak hanya itu, penyebab lain ada seperti overall recovery pabrik yang hampir semuanya dibawah 80% dan kebanyakan pabrik masih menghasilkan produk tunggal berupa gula”, ujar Tito.

Namun, bukan hidup namanya jika tidak ada harapan yang harus diperjuangkan. Meskipun industri gula di Jawa diliputi oleh berbagai masalah, namun masih ada dan selalu ada harapan untuk tetap hidup. Menurut Tito Pranolo, masih ada harapan yang cerah di depan jika semua stakeholder mampu berkomitmen untuk terus bekerjasama. Bukan isapan jempol belaka, dirinya melihat harapan tersebut didasarkan pada beberapa bukti di lapang, diantaranya, masih ada pabrik gula di Jawa yang HPP nya di bawah Rp 6.000/kg gula, masih ada petani yang produktivitasnya diatas 10 ton gula/ha dengan BPP dibawah Rp 6.000/ha.

Tak berhenti disitu, dirinya pun menemukan ada teknologi di kebun dengan mekanisasi, pengembangan benih, dan sudah ada pabrik yang memulai diversifikasi. “Sehingga bukan hal yang mustahil untuk mewujudkan harapan-harapan untuk tetap menghidupkan dan memajukan industri gua di Jawa”, tegas Tito Pranolo.

(Upe)