Bilateral Consultation Meeting Indonesia-Thailand

gula

Oleh: Adig Suwandi

Menunjuk surat Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemsaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian No. 1353/TU.220/G/11/2013 tanggal 6 November 2013, telah dilaksanakan bilateral consulting meeting ke-5 antara Indonesia dan Thailand. Dari pertemuan yang dilaksanakan di Surakarta 19-20 November 2013 dihasilkan beberapa keputusan. Keputusan tersebut diantaranya :

– Sesuai dengan kesepakatan negara anggota ASEAN, tarif bea masuk untuk seluruh produk pertanian yang diatur dalam common effective preferencial tariff (CEPT) dijadwalkan menjadi 0%. Thailand berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama (kemungkinan 1 Januari 2015) liberalisasi perdagangan diberlakukan secara menyeluruh, termasuk gula dan beras.

-Produksi gula Thailand dewasa ini mencapai 10 juta ton dengn lokasi 2,5 juta ton untuk konsumsi sendiri dan 7,5 juta ton untuk ekspor. Sangat wajar jika Thailand berkepentingan menginginkan pasar di Indonesia yang sangat dinamis.

-Indonesia dewasa ini berstatus sebagai produsen sekaligus pengimpor gula. Produksi melalui pengoperasian 62 PG berbahan baku tebu yang setiap tahun menghasikan gula untuk konsumsi langsung (direct consumption) sebanyak 2,2 juta hingga 2,6 juta ton. impor dilakukan untuk kebutuhan bahan baku industri gula rafinasi sebanyak 2,4 juta ton. terjad trend permintaan konsumsi atau gula rafinasi oleh industri makan dan minuman 5% per tahun sehingga memicu impor raw sugar oleh industri gula rafinasi.

-Bila liberalisasi perdagangan gula diberlakukan, dengan harga gula USD 500 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium), maka : Bila USD 1 = Rp 10.500 otomatis sejumlah PG dengan HPP > Rp 6.800 per kg dipastikan tidak mampu bersaing. USD 1 = Rp 11.700 PG dengan HPP > Rp 7.800 tdak akan mampu bersaing.

-Indonesia berpendapat bahwa situasi sekarang yang ditandai masih diberlakukan tarif bea masuk tetapi untuk raw sugar yang diimpor industri gula rafinasi yang dapat dalam praktek mendapat fasilitas keringanan bea masuk 0-5% diikuti penetpn kuota, sebenarnya Thailand masih diuntungkan. Masalahnya, impor raw sugar dari Thaiand mencapai kisaran 70-80%. Bila pasar dibuka secara bebas tanpa tarif dan kuota, gula dari Brasil dan Australia dengan HP lebih rendah dari Thailand diperkirakan masuk ke Indonesia. Importir akan berhitung bila biaya transportasi dari Brasil dan Australia masih memadai kemungkinan mereka tidak mengambil gula dari Thailand.

– Perlindungan kepada petani masih diperlukan selama masa transisi kearah HPP yang mampu bersaing terhadap gula impor melalui kebijakan pemerintah yang berpihak.

– Thailand kembali mempertanyakan hingga beberapa lama kebijakan transisional tersebut diberlakukan.