Disuntik Rp 280 M, RNI janji selamatkan pabrik gula dari bangkrut

116108_475

SI,Jakarta- PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) (Persero) mendapatkan suntikan dana dari pemerintah melalui mekanisme Penyertaan Modal Negara (PMN). Nilainya mencapai Rp 280 miliar.

Rencananya dana ini akan digunakan untuk merevitalisasi kebun Pabrik Gula Jatitujuh sebesar Rp 143 miliar dan revitalisasi kebun Pabrik Gula Subang sebesar Rp 137 miliar.

Direktur Utama RNI, Ismed Hasan Putro mengatakan dana segar ini juga akan digunakan untuk menyelamatkan pabrik gula Jatitujuh serta pabrik gula Subang dari kebangkrutan dan ancaman penutupan.

Dia berjanji menyehatkan kedua pabrik gula yang selama ini merugi. “Nantinya kedua pabrik gula ini akan mengalami peningkatan laba sebesar Rp 145 miliar pada tahun 2019,” ujarnya di Komisi VI, Jakarta, Senin (26/1).

Dalam rencananya, revitalisasi akan meliputi penambahan lebung dan perbaikan irigasi, perbaikan infrastruktur terutama jalan produksi, penataan lahan. Tak lupa perbaikan varietas tanaman, perbaikan drainase dan pengendalian hama penyakit tanaman.

“HPP diharapkan menjadi Rp 5.500 per kg pada tahun 2019 dan dapat bersaing dengan harga pada impor yang saat ini harganya sekitar Rp 5.500 per kg,” jelas dia.

Dengan dana PMN, Jawa Barat akan dipertahankan sebagai salah satu produsen gula nasional. Sebanyak 5 pabrik gula di wilayah ini memproduksi 83.000 ton pada tahun 2014. Produksi pabrik gula Jatitujuh dan Subang akan ditingkatkan dari 42. 742 ton di 2014 menjadi 85.384 ton di 2019.

Pemerintah juga yakin sanggup mengurangi impor gula sebesar 42.642 ton pada 2019 yang menghemat devisa sebesar Rp 235 miliar per tahun serta mengurangi ketergantungan gula dari negara lain. Target akhirnya tercapainya program swasembada gula nasional pada 2017.

“Mempertahankan dan meningkatkan kegiatan usaha masyarakat yang terkait dengan usaha tebu seperti jasa transportasi tebu, usaha jenis pergudangan, usaha pemeliharaan dan penyewaan peralatan kebun, usaha jasa penyediaan tenaga kerja, usaha perdagangan gula. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp 14,8 juta per hektar pada 2019 dan penyerapan tenaga kerja langsung dan tidak langsung dengan keberlangsungan usaha sebesar 2200 orang,” ungkapnya.

(merdeka.com)