Harga Gula Fluktuatif, Harus Ada Diversifikasi Usaha Pabrik Gula

antarafoto-Peresmian-Pabrik-Bioetanol-Mojokerto-200813-SA-5

SI,Jakarta- Para ahli, pakar, dan praktisi gula sepakat bahwa semua pabrik gula di Indonesia wajib melakukan diversifikasi usaha. Hal itu menyusul perkembangan harga gula akhir-akhir ini yang selalu fluktuatif, sehingga usaha pabrik gula tidak akan bisa berkembang.

“Diversifikasi usaha pabrik gula bisa dilakukan dengan memanfaatkan produk turunan tebu non-gula, seperti listrik dari ampas tebu dan bioetanol dari tetes tebu,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Subiyono, Rabu (24/9/2014) malam.

Subiyono mengatakan kesepakatan soal diversifikasi usaha pabrik gula ini merupakan hasil rekomendasi dari pertemuan 300 anggota Ikagi di Jawa Timur. Selain bertukar pikiran soal diversifikasi usaha pabrik gula, peserta pertemuan selama dua hari itu juga mendatangi pabrik gula di Kediri, Tulungagung, Mojokerto, dan Sidoarjo.

Diversifikasi usaha non-gula, kata Subiyono, sangat relevan karena harga gula terlalu fluktuatif. “Perkembangan harga gula tidak bisa menghasilkan keuntungan untuk menopang ekspansi industri guna menambah mesin atau melakukan perluasan lahan. Dalam konteks inilah, produk non-gula bisa menjadi penopang, bahkan penggerak utama industri berbasis tebu.”

Sejak 2009-2013, biaya pokok produksi (BPP) gula petani naik 58 persen, dari Rp 5.100 per kilogram menjadi Rp 8.070 per kilogram. Namun, harga lelang gula hanya naik 22,88 persen dari Rp 7.056 per kilogram menjadi Rp 8.671 perkilogram, bahkan pada tahun ini di bawah Rp 8.500 per kilogram.

Subiyono berharap,  Indonesia bisa menjadi seperti negara produsen gula lainnya -Brasil, Thailand, atau India- yang tetap berkembang di tengah fluktuasi harga gula. Negara-negara itu, ujar dia, menerapkan diversifikasi usaha berbasis tebu.

Di Brasil, kata Subiyono, pabrik gula bisa menghasilkan lebih dari 3.000 mega Watt listrik dari produk sampingan tebu. “Di Indonesia, hanya ada satu pabrik bioetanol berbasis tebu, yaitu di PG Gempolkrep, Mojokerto. Padahal, Indonesia punya 51 pabrik gula milik BUMN.”

(regional.kompas.com)