Harus ada Peningkatan di Industri Gula agar Impor tidak Berlanjut

bayumurti

 SI, Jakarta- Impor raw sugar selalu membuat petani gula meradang, sebab ujung terburuk dari kebijakan impor adalah rembesnya gula rafinasi ke pasar konsumen. Menangani masalah ini, Kementerian Perdagangan sengaja mengharuskan industri rafinasi—dengan izin impor untuk Semester II sebesar  502.000 ton—langsung mengantarkan produknya ke industri makanan dan minuman dan UKM, tanpa melalui distributor. Hal ini diharapkan dapat mengantisipasi rembesnya gula rafinasi. “Ini bagian dari pengendalian itu, tetapi disisi lain, yang salah satu menjadi sisi abu-abu adalah UKM. Industri kecil ini juga punya hak untuk mendapatkan gula bagus dan harga murah-kan gitu,” kata Bayu Krisnamukti, Wakil Menteri Perdagangan.

                Oleh karena itu, menurut Bayu, Industri gula nasional harus berbenah dengan meningkatkan produktivitas dan produksi. “Yah, harus ada perbaikan dari pabrik gula, enggak bisa enggak, dan itu sudah kita katakan berkali-kali sejak 1987, Kita ulang-ulang sampai dengan sekarang. Jadi, saya kira ini memang tantangan yang besar dan kita di Kementerian Perdagangan cuman mencoba mengelola dengan kondisi yang tidak optimal,” kata Bayu.

Selain itu, dari sisi permintaan industri makanan dan minuman, juga terus membutuhkan kualitas gula yang lebih baik. “Kalau kualitas tidak ditingkatkan, kita akan mengalami situasi seperti ini terus,” Kata Bayu.

(Ilfan Akbar)