Industri Gula Nasional Tak Naik Kelas!

bungaran

Industri gula saat ini idap penyakit kronis. Mungkin itu gambaran singkat industri yang notabene menjadi bahan baku pokok dan masuk ke dalam industri strategis. Kebijakan Pemerintah yang masih setengah hati didukung dengan sebagian besar pabrik gula yang tak prima serta ditambah dengan produktivitas tanaman tebu yang rendah membuat industri gula berada pada bongkahan benang kusut. Hal ini pun tak pelak membuat seorang yang dahulu mengemban tugas sebagai Menteri Pertanian ikut mengelus dada.

Adalah Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, Mantan Menteri Pertanian era Kabinet Gotong Royong tahun 2001 hingga 2014 menganggap industri gula nasional saat ini berjalan di tempat alias tak naik kelas. Penyebabnya menurut Bungaran yakni tidak dilanjutkan kembali pondasi dari Pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, setiap berganti Pemerintahan, maka berganti pula sumber daya manusia termasuk program yang seharusnya dijalankan secara berkelanjutan. “Ini kan continuity national program. Saya dulu datang ke Pemerintahan pada masa krisis. Tidak ada lagi pegangan kita, maka terpaksa kita buat pondasi baru. Meskipun baru pondasi sudah mulai kelihatan (hasilnya-red),” pungkas Bungaran.

Warisan kolonial menurut Bungaran, ikut menyumbang industri gula babak belur. “Bukan TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi-red) yang gagal, industri gula nasional yang gagal. TRI bukan hanya urusan petani tetapi juga pengusaha (PG) dan Pemda. Itu yang tidak disadari,” kata Bungaran. Industri gula, lanjut Bungaran juga tak terintegrasi antara sektor on farm yang dijalankan oleh petani dengan swasta di sektor off farmnya. Saling tidak percaya antara petani dan Pabrik Gula (PG) semakin membuat industri gula njelimet. Masalah semakin menjadi ketika menurut Bungaran supporting system antara petani dan PG tak berjalan. Supporting system antara petani dan PG yakni berada di tangan Asosiasi Petani yang seharusnya memiliki satu suara memajukan petani. Tidak lagi berkubu dan berpihak pada satu kepentingan tertentu. Semrawutnya industri gula juga akibat krisis kepemimpinan. “Leadership itu how to organize all of this company. Basic policynya tidak dimengerti, atau dimengerti tetapi tidak dilaksanakan karena ada kepentingan lain,” tandasnya lagi.

Ketika organisasi petani masih berusaha untuk terus didengar oleh Pemerintah, sesungguhnya produktivitas tanaman tebu juga tak lagi bisa menunggu. Semua sudah berada di ujung tanduk terlebih ketika 2015 datang dengan tantangan perdagangan bebas di dalamnya. Lagi-lagi persoalan teknologi alias penelitian yang sangat minim dipandang Bungaran sebagai akibat rendahnya produktivitas. Minimnya perhatian Pemerintah terkait inovasi yang dilakukan lembaga penelitian serta ketidakmampuan pendanaan lembaga penelitian tempatnya bernaung juga merupakan masalah yang cukup pelik. “P3GI dianggap urusannya PTPN. Perkebunan negara ko tidak bisa diurus negara? Saat saya pimpin kasih (dana) ke P3GI. Tanpa ada penelitian yang baru tidak akan mencapai produktivitas yang besar,” kisah Bungaran.

Promosi dan Proteksi

Masih teringat jelas bagi Bungaran ketika dua kebijakan itu diterapkan oleh Bungaran. Promosi dan proteksi adalah kebijakan yang dilakukan Bungaran dahulu. Kebon Agung adalah PG yang menurut Bungaran tak memiliki HGU sehingga mengandalkan tebu dari petani mampu membangun kepercayaan bersama petani di samping PG-nya yang efisien. “Kebon Agung memanfaatkan policy dengan baik. Dalam tiga tahun bisa revitalisasi,” kata Bungaran mengisahkan salah satu PG yang memanfaat kebijakan yang diberlakukan Bungaran saat dirinya masih menjabat Mentan dahulu.

Tak hanya kebijakan promosi dan proteksi, Bungaran menilai, agar industri gula nasional maju diperlukan sistem agribisnis gula yang terintegrasi melalui sistem yang saling menguntungkan bagi petani, pengusaha dalam hal ini PG dan pedagang, dan pemerintah selaku jurinya. “Integrasi ini bisa sistem apa saja yang menguntungkan keduanya. Tidak boleh saling menipu,” tandasnya. Diperlukan kebijakan dan kekuatan yang besar untuk dapat merangkul seluruh stakeholder. Dewan Ketahan Pangan yang dibentuk Bungaran dahulu adalah bagian dari langkah besar agar pangan termasuk gula terproteksi dengan baik. “Harapan selalu ada. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan,” harap Bungaran.

(Cici)