Ini Kiat PTPN X Tangkal Tekanan Harga Gula

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X (Persero), Subiyono (dua dari kanan), berbincang dengan Direktur Produksi PTPN X, Tarsisius Sutaryanto (dua dari kiri),  Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN X, Mochamad Sulton (kiri) dan General Manaje

SI,Jakarta- Sejumlah BUMN perkebunan di Jawa Timur tengah memutar otak untuk menyiasati anjloknya harga gula kristal putih (GKP), agar produksi pabrik gula (PG) dan produktivitas lahanmereka  tidak menurun.

Hal tersebut juga dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X). Tahun lalu, perseroan pelat merah itu berhasil memproduksi gula sebesar 468.337 ton dari 11 pabrik gula (PG) miliknya di Jatim.

Meski dihadang dampak lanjutan anomali iklim, kinerja produksi perusahaan itu relatif stabil. Produksi gula tercatat hanya turun sekitar 3% dari 2013. Dengan produksi 468.337 ton, PTPN X tetap sebagai produsen gula terbesar se-Indonesia.

Dirut PTPN X Subiyono mengatakan musim giling sepanjang 2014 dihantui oleh dampak anomali iklim yang terjadi pada 2013, saat terjadi hujan berkepanjangan yang berdampak pada terhambatnya pembentukan gula pada batang tebu.

”Tebu yang tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada 2013 berdampak pada kinerja 2014. Meski demikian, kami banyak melakukan antisipasi, antara lain dengan perbaikan di sektor budidaya dan revitalisasi mesin-mesin pabrik,” ujarnya, Rabu (28/1/2015).

Beberapa indikator kinerja juga menunjukkan perbaikan. Kadar gula dalam tebu (rendemen) mencapai 7,64% pada 2014, dari catatan 2013 sebesar 7,19%. Produktivitas lahan rata-rata mencapai 85 ton/ha, termasuk yang tertinggi di antara perusahaan pergulaan yang lain.

Luas areal tebu yang dikelola PTPN X bersama petani binaannya pada 2014 adalah sebesar 72.233 hektar dengan total 6,11 juta tebu digiling. Perusahaan mempunyai kapasitas giling pabrik sebesar 37.234 ton tebu per hari.

Subiyono menambahkan, kinerja 2014 juga terhambat penurunan harga gula yang sangat drastis. Bahkan, hingga ke kisaran Rp8.500/kg. Angka ini jauh di bawah tahun-tahun sebelumnya yang sebesar Rp9.500/kg, bahkan menembus di atas Rp10.000/kg pada 2012.

Harga gula merosot lantaran penawaran yang berlebih karena rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi. Gula rafinasi yang berbahan gula mentah impor semestinya untuk pasar industri makanan-minuman, tapi masuk ke pasar gula konsumsi sehingga menekan penjualan gula berbahan tebu petani.

Untuk menyiasati penurunan harga gula, lanjut Subiyono, PTPN X terus berupaya melakukan efisiensi untuk menekan biaya pokok produksi. Biaya pokok produksi gula di PTPN X berhasil ditekan menjadi Rp5.758/kg pada 2014, menurun dari 2013 sebesar Rp6.376/kg.

”Biaya produksi gula kami termasuk yang terendah di Indonesia. Karena efisiensi dan optimalisasi kinerja pabrik, biaya produksi bisa ditekan. Hasilnya, di tengah penurunan harga yang sangat tajam, kami masih bisa membukukan laba,” jelas Subiyono.

(Bisnis.com)