Investasi Rp 200 M, RNI Bangun Pabrik Bioethanol

antarafoto-Peresmian-Pabrik-Bioetanol-Mojokerto-200813-SA-5

SI,Jakarta-PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mengkaji pembangunan industri gula terintegrasi berupa pabrik ethanol di sekitar perkebunan tebu di Pabrik Gula Rajawali II Unit Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat dengan investasi sekitar Rp 200 miliar.

“Pabrik ethanol berkapasitas 50 kiloliter per hari bioethanol tersebut ditargetkan bisa berproduksi mulai tahun 2018,” kata Direktur Utama RNI, B Didik Prasetyo, di sela kunjungan kerja Menteri BUMN Rini Soemarno, di Pabrik Gula Sindanglaut.

Menurut Didik, kajian pembangunan industri gula terintegrasi sedang dituntaskan untuk selanjutnya disampaikan kepada Kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham. Pembangunan pabrik ethanol ini, katanya lagi, dimaksudkan untuk memanfaatkan produk sampingan dari pabrik gula, selain itu juga agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap gula rafinasi.

Ia menjelaskan, kualitas bioethanol produksi RNI tersebut setara dengan kualitas BBM 99%. Dia menyatakan, pada lahan hak guna usaha (HGU) seluas 12.000 hektare selain pabrik bioethanol, juga akan dibangun pembangkit listrik untuk keperluan pabrik.

“Pabrik gula yang sudah ada di Jati Tujuh tetap dikembangkan, tetapi terintegrasi dengan bioethanol dan pembangkit listrik sebagai penunjang utama produksi,” ujar Didik lagi.

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa kajian pembangunan pabrik bioethanol tersebut mendapat perhatian serius dari PT Pertamina (Persero) dan PT Toyota Indonesia.

“Pertamina nantinya akan menjadi ‘off taker’ atau pembeli bioethanol, sedangkan Toyota akan berkontribusi dari sisi teknologi yang digunakan,” katanya.

Terkait pendanaan, Didik yang baru menjabat Dirut RNI sejak Juni 2015 ini mengatakan, pembiayaan sedang dalam tahap kajian.

“Skema pembiayaan sedang dipertimbangkan. Bisa dari internal perusahaan, sejalan dengan peningkatan kinerja keuangan yang signifikan dalam setahun ke depan. Namun bisa juga diperoleh dari mitra kerja sama,” ujarnya lagi.

Ia pun menargetkan, setahun setelah mulai beroperasi tahun 2018, produksi gula bisa mencapai 59.791 ton, dengan harga pokok produksi (HPP) gula dapat ditekan menjadi Rp 5.655 per kilogram. Secara keseluruhan, RNI memiliki 18 pabrik gula dengan rata-rata rendemen gula berkisar di atas 7,8%. Total produksi gula RNI pada tahun 2015 diproyeksikan mencapai sekitar 314.000–358.000 ton, atau meningkat sekitar 40 ton dari tahun 2014.

(sumber:kontan)