Investor Gula Malaysia Mencari Mitra

pabrik gula

SI,Jakarta-Indonesia dengan tingkat kebutuhan gula yang terus meningkat membuat investor asing tergoda untuk ikut menggeluti industri tersebut. Pasalnya, tiap tahun bangsa ini membutuhkan gula hingga 5,6 juta ton gula. Kebutuhan tersebut terdiri dari 2,6 juta ton gula konsumsi dan 3 juta ton gula untuk dunia industri. Bukan tanpa alasan, investor asing yang melirik indsutri gula melihat peluang besar di Indonesia. Dikarenakan selama ini di Indonesia kebutuhan gula industri dibanjiri dengan impor raw sugar yang selanjutnya diolah kembali menjadi gula rafinasi. Diantara beberapa investor asing yang ingin terjun di industri ini,  MSM Malaysia Holdings Berhard yang berasal dari negara tetangga, yaitu Malaysia yang paling berhasrat untuk menekuni industri tersebut di Indonesia.

Tak main-main, perusahaan tersebut telah menyiapkan dana segar lebih dari US$ 750 juta untuk dapat ikut serta dalam membangun pabrik gula konsumsi sekaligus industri di tanah air ini. Tak hanya itu, untuk makin memperkuat eksistensinya di bidang pergulaan, MSM berminat untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan gula dalam negeri, namun hingga saat ini belum jelas perusahaan berlabel BUMN atau swasta yang akan diajak ikut serta olehnya. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Dato’ Sheikh Awab Sheikh Abod, Chief Executive Officer (CEO) MSM, menegaskan ingin berinvestasi gula mulai dari hulu dengan cara membuka perkebunan tebu di Indonesia. Hal tersebut bertujuan agar tidak perlu melakukan impor gula mentah sebagai bahan baku.

Sejumlah perusahaan pelat merah yang memiliki perkebunan tebu di tanah air, seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, PTPN IX, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), juga telah dijajaki untuk diajak bekerjasama dengan skema build operate transfer (BOT) selama 30 tahun hingga 40 tahun. Namun, hingga kini belum juga menemui kata sepakat. Tujuan menggandeng perusahaan milik negara ini lantaran mesin penggilingan tebu milik perusahaan BUMN sudah tak lagi produktif. Sebagian sudah terlalu uzur karena digunakan sejak 50 tahun lalu.

Alhasil, meskipun punya lahan tebu yang luas dan produktif, hasil produksinya cukup minim. Jika nanti berhasil masuk ke bisnis ini, MSM berniat menggarap bisnis gula konsumsi terlebih dahulu guna mendukung program swasembada gula yang telah dicanangkan pemerintah. Meski begitu, dia enggan membeberkan target produksi dari pabrik yang akan dibangun ini.

(Upe)