Jalan Terjal Industri Gula Indonesia

negara-afta-manajemenproyekindonesia

SI,Jakarta- Jumat lalu, pernyataan ketidaktahuan perihal bisa tidaknya pajak penghasilan yang disumbangkan industri gula sebesar 2,5 triliun untuk kemudian bisa dikembalikan merevitalisasi pabrik gula oleh Menteri Keuangan, Chatib Basri, dinilai wajar oleh Tito Pranolo, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia. Menurutnya, industri gula di Indonesia adalah isu nasional yang harus diselesaikan oleh Pemerintah. “(Wajar Kemenkeu mengatakan tidak tahu) karena ini sudah menjadi urusan Pemerintah (persoalan gula). Semua yang berurusan dengan masalah gula dikembalikan ke Pemerintah. Harus didesain dan menjadi sebuah policy. Kalau tidak ada kebijakan Pemerintah maka tidak bisa,” tegas Tito. Ia kemudian membandingkan dengan Pemerintah Thailand yang dapat mengembalikan pajak untuk kejayaan komoditas dalam negerinya. Tentu ini membutuhkan political will yang sungguh-sungguh di tubuh Pemerintah Indonesia.

Persoalan ini termasuk berkaitan dengan komoditas gula yang diminta masuk ke dalam kategori high sensitive list dalam menyambut AFTA 2015. Tito menilai jika Pemerintah memiliki program yang jelas tentu gula yang masuk ke dalam kategori high sensitive list dapat diberikan tenggat. Tito memberi contoh dengan memberi tenggat selesainya revitalisasi pabrik gula maka kategori high sensitive list juga akan selesai. “Kalau kita mau revitalisasi delapan tahun maka selesai, tetapi kita harus jelas. Revitalisasi ini mau diselesaikan dalam berapa tahun?,” pungkas Tito.

Tito juga menyesalkan sistem perdagangan yang ada di Indonesia bukan lagi berlandaskan fair trade melainkan free trade. “Kalau kita baca di agreement agriculture tidak ada kata-kata free trade. Yang ada fair trade yakni perdagangan yang berkeadilan. Di dunia ini gula pasarnya tidak sempurna. Kalau kita mau ukur harga gula di pasar retail, bagaimana membandingkan? Kita bandingkan di Singapore, Thailand, Malaysia, retailnya. Ini kan tidak fair, banyak intervensinya. Ini sama dengan HPP,” ujar Tito menyesalkan.

Industri gula, ujar Tito, harus dilihat seperti di pertandingan olahraga yang berlandasakan fair game. “Tidak pernah ada persija melawan MU, ini tidak menarik karena tidak satu level. Itu pertandingan yang tidak fair. Maka ada kelas tinju, ada liga sepakbola agar levelnya sama,” kata Tito.

(Cici)