Kebanyakan Impor, PTPN X Hentikan Penjualan Gula

IMG_1678

SI,Jakarta- PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) memutuskan untuk menghentikan penjualan gula selama 2014, karena pemerintah melakukan impor gula secara besar-besaran.

Penghentian penjualan berdampak besar, PTPN harus menghidupi kebutuhan dari olahan tenaga alternatif. Karena, biaya operasional yang dibutuhkan cukup besar.

“Kami menghentikan penjualan gula, kami berharap pemerintah memiliki cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata Direktur Utama PTPN X Subiyono, Rabu (24/9/2014).

Saat ini, pihaknya berupaya mendorong perubahan paradigma di kalangan pelaku industri. Revitalisasi industri gula harus diarahkan pada diversifikasi usaha non gula yang bisa menopang keberlangsungan industri padat karya ini.

Revitalisasi industri gula perlu dimaknai sebagai paradigma baru dalam memandang masa depan industri gula.

“Revitalisasi industri gula ke depan tidak boleh hanya berorientasi peningkatan produktivitas gula semata, melainkan harus bersandar pada konsep keberlanjutan,” terangnya.

Keberlanjutan yang dimaksud, upaya mengoptimalkan semua potensi tebu yang berujung pada peningkatan daya saing.

Keberlanjutan harus diwujudkan dengan menggarap diversifikasi usaha non gula secara serius, seperti listrik dari ampas tebu maupun bioetanol dari tetes tebu.

Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) ini mengatakan, konsep keberlanjutan dengan fokus diversifikasi usaha non gula relevan, karena harga gula terlalu berfluktuatif.
Perkembangan harga gula tidak bisa menghasilkan keuntungan untuk menopang ekspansi industri untuk menambah mesin atau melakukan perluasan lahan.

Dalam konteks ini, produk non gula bisa menjadi penopang, bahkan penggerak utama industri berbasis tebu.

Selama lima tahun terakhir mulai 2009-2013, biaya pokok produksi (BPP) gula petani terus meningkat 58% dari sekitar Rp5.100 per kg menjadi Rp8.070 per kg.

Namun, harga lelang gula dari 2009 ke 2013 cuma naik 22,88% dari Rp7.056 per kg menjadi Rp8.671 per kg. Bahkan, tahun ini lebih rendah lagi ke level di bawah Rp8.500 per kg.

“Masalahnya memang kompleks, mulai dari tata niaga sampai penyimpangan (moral hazard). Intinya kita tahu bahwa gula tak bisa lagi jadi sandaran utama keberlangsungan pabrik-pabrik yang ada,” ujar dia.

Subiyono mengatakan, tidak hanya di Indonesia, di berbagai negara, biaya produksi gula terus meningkat. Di Brasil misalnya, pada 2013, harga raw sugar US19 cent/pound atau USD418,87 per ton baru menutup biaya operasional, belum termasuk bunga kredit perbankan dan perpajakan.

Selain itu, negara di luar Brasil yang jelas-jelas produksinya belum bisa seefisien Brasil. Di tengah kenaikan biaya produksi, harga gula dunia relatif stagnan, bahkan mengalami penurunan.

Harga gula dunia 2013 tercatat sebagai yang terendah dalam empat tahun terakhir, yaitu USD489,80 per ton. Pada 2014 harga gula dunia juga belum beranjak naik, masih berkisar USD470 per ton.

Dia menjelaskan, bagi negara-negara importer murni (tidak memproduksi gula sama sekali), rendahnya harga gula dunia tentu menguntungkan.

Demikian pula untuk negara produsen, namun juga melakukan impor skala kecil, harga gula dunia yang rendah cukup menguntungkan.

“Namun, bagi negara produsen dan sekaligus importer gula besar seperti Indonesia, turunnya harga gula dunia sangat meresahkan. Karena gula impor yang masuk dengan harga rendah sangat memukul industri gula dalam negeri yang digerakkan para petani tebu rakyat,” papar dia.

(ekbis.sindonews.com)