KPPU: Target Pertumbuhan ekonomi 7% sulit dicapai karena HPP gula.

155873_620
SI,Jakarta- Melihat keinginan Presiden Jokowi yang menginginkan pertumbuhan ekonomi 7%, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengharapkan pemerintah untuk tidak memberlakukan lagi tarif batas bawah.  Sebab tarif bawah, mengakibatkan tidak sehatnya pasar dari suatu industri.Dalam hal ini, KPPU merujuk tarif batas bawah atau Harga Patokan Petani Gula.”Untuk tumbuh 7% tidak ada cara lain, suatu pertumbuhan harus mulai digerakkan oleh produktivitas,” ujar Muhammad Syarkawi Rauf,Anggota Komisioner Hubungan Masyarakat dan Legal KPPU.
Menurutnya, tarif batas bawah, kontraproduktif dengan keinginan jokowi sebab di Industri gula, atau Harga Patokan Petani. Hanya untuk melindungi perusahaan gula BUMN yang produksinya kecil, dan harga gulanya Rp.8000/Kg Padahal disisi lain, ada perusahaan gula yang produksinya melimpah dengan harga gula hanya Rp.4500-5000/Kg.”Untuk apa melindungi yang enggak efisien  itu. Ideal adalah upaya mendorong efisiensi di pabrik gula milik BUMN,” ujar Syarkawi.
Tarif batas bawah, jelas syarkawi, hanya boleh diberikan pada UMR karena pasarnya tidak bekerja dengan baik.”Untuk mencapai 7% kan harus ada efisiensi harus produktivitas. Untuk menjaga produktivitas, pasarnya harus bekerja dengan baik,” ujar Syarkawi.

Oleh karena itu, Syarkawi mengharapkan pemerintah memberikan insentif kepada industri gula agar dapat bekerja dengan efisien. ” Pemerintah harus memberi insentif untuk efisiensi,” tandas Syarkawi.

(Ilfan Akbar)