Lahan Jadi Penyebab Tak Ada Pabrik Gula Baru di Indonesia

001Saleh husin

Penyebab adanya impor raw sugar setiap tahun karena tak ada pabrik gula baru. pabrik gula baru sulit dibangun karena terganjal ketersediaan lahan.

“Yang mereka sampaikan (investor) untuk memiliki ‎lahan itu sulit. Lahan itu menjadi masalah,” tutur Menteri Perindustrian Saleh Husin saat ditemui Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (22/12/2014).

Menurut Saleh, setidaknya dibutuhkan 10 ribu hektar lahan perkebunan tebu untuk 1 pabrik gula. Saleh berjanji akan berkoordinasi dengan kementerian lain untuk mengupayakan penyediaan lahan ini.

“Minimal 10 ribu hektar ini yang kita terus berupaya yang akan berkoordinasi dengan kementerian lain, kehutanan, agraria. Agar mendapatkan lahan untuk membangun perkebunan,” jelasnya.

Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri agar Indonesia tak lagi mengimpor gula mentah itu,

Saleh menyebut setidaknya dibutuhkan 10 pabrik gula baru berkepasitas 300 ribu ton. Sehingga totak kapasitas produksinya mencapai 3 juta ton.

“Tapi kan memang nggak semudah itu, tapi paling tidak secara berangsur tak lagi harus mengimpor raw sugar. Mendapatkan lahan nggak gampang,” jelasnya.

Dia mengakui, ketergantungan Indonesia untuk impor raw sugar atau gula mentah itu tak bisa langsung ditinggalkan.

Oleh karenanya, secara bertahap pembangunan pabrik bakal dilakukan dan pada saat bersamaan juga impor secara berangsur tak lagi dilakukan.

“Di Lamongan sudah ada pabrik sekitar 200-300 ribu hektar, di Dompu juga, tapi yang di Dompu saya belum melihat,”‎ jelasnya.

Seperti diketahui, Indonesia masih harus mengimpor 100% bahan baku gula rafinasi atau gula untuk industri yakni gula mentah karena sama sekali tak ada pasokan di dalam negeri.

Kebutuhan akan gula impor gula disebutkan pemerintah mencapai 2,8 juta sampai 3 juta ton. Sedangkan kalangan pengusaha gula rafinasi dan makanan minuman (mamin) menyebut kebutuhan gula mentah tahun depan mencapai 3,2 juta ton.

(medanbisnisdaily.com)