Menuju Varietas Tebu Spektakuler

Varietas-unggul-3a

Oleh : Untung Prasetyo

Lahirya POJ 2878 sebagai varietas tebu unggul yang spektakuler memberikan pelajaran akan pentingnya plasma nutfah tebu. Kejayaan yang telah memudar dan menjadi sejarah, seharusnya mampu membangunkan pikiran dari kenangan masa lalu.Bangkit dan realisasikan mimpi untuk menghasilkan varietas unggul layaknya POJ 2878 menjadi harga mati untuk kejayaan pergulaan nasional.

Lebih dari 100 tahun silam, tepatnya pada tahun 1887 peneliti kenamaan Soltwede berhasil menemukan sebuah teori yang sangat membantu perkebunan dan industri tebu hingga saat ini. Dalam penelitiannya, Soltwede menyimpulkan bahwa perbanyakan tebu dapat dilakukan melalui biji. Sejak saat itulah mata dunia terbuka  bahwa tebu yang pada awalnya dibudidayakan hanya menggunakan tebu asli dari spesies Saccharum officinarum, beralih dengan merakit varietas-varietas tebu unggul. Seiring berjalannya waktu, penelitian terus dikembangkan hingga pada tahun 1923 dihaslkan POJ 2878 sebagai varietas unggul spektakuler.Penyebutan spektakuler pantas disandang oleh varietas tersebut sebab mampu mengatasi penyakit sereh yang mengancam industri gula pada masa itu.

POJ 2878 merupakan varietas tebu unggul yang dimiliki oleh Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang dihasilkan dari lompatan genetik sebagai hasil persilangan antara kultivar tebu nobel dengan spesies liarnya S. Spontaneum kemudian keturunannya disilang balik dengan S. officiniorum. Bersama P3GI yang mengembangkan POJ 2878, varietas tersebut tercatat sebagai varietas terbaik sejak zaman Hindia Belanda.Pada masa tersebut POJ 2878 mampu meningkatkan produksi gula secara drastis, yaitu sekitar 35% dari varietas sebelumnya. Bukan saja mengatasi penyakit sereh, namun peningkatan produksi tersebut pun mengatasi masalah persaingan gula tebu dengan gula bit pada saat itu. Sehingga pada zamannya POJ 2878 lebih dikenal sebagai wondercane from Java (tebu ajaib dari jawa).Pada saat yang bersamaan pula, di beberapa negara seperti India, menghasilkan varietas-varietas tebu unggul yang memberikan sumbangan penting pada percepatan perkembangan industri gula dunia, yaitu diantaranya Co290, Co419, Nco210, dan CP49/50.

Melihat sifat dasar dari tanaman tebu yang sangat polipoid dan memiliki genom yang sangat kompleks, sehingga dalam proses perbanyakannya sangat dipengaruhi faktor strategi, metode, dan efisiensi program perakitan varietasnya. Namun dengan lahirnya POJ 2878 faktor-faktor tersebut dapat diminimalisir, sebab POJ 2878 telah digunakan sebagai varietas tetua persilangan pada program pemuliaan tebu di seluruh dunia hingga kini. Sehingga menurut peneliti P3GI bidang pemuliaan, Dr. Wiwit Budi Widyasari, dasar genetik pada varietas-varietas modern saat ini menjadi tampak sempit karena berasal dari satu “darah” yaitu POJ 2878. “Keragaman keturunan persilangan saat ini sangat rendah sebab keragaman tetua persilangannya pun sangat rendah, inilah alasan mengapa kemajuan program perakitan varietas tebu unggul menjadi sangat lambat,” ungkap Widyasari.Mengutip dari tulisan Widyasari, dengan demikian keragaman genetik populasi keturunan yang dihasilkan sangatlah sempit.Sempitnya keragaman populasi keturunan akibat perkawinan kerabat dekat atau satu saudara ini yang menyulitkan terjadinya lompatan perbaikan genetik berupa varietas tebu unggul yang spektakuler.

Melaju dari sejarah varietas unggul POJ 2878 dan semakin rendahnya hasil persilangan yang menghasilkan varietas unggul, timbul pertanyaan akankah dapat kembali mengulang sejarah tersebut?Berdasarkan hal tersebut, menurut Widyasari terlahirnya wondercane baru sangat mungkin terwujud apabila menyilangkan tetua yang mempunyai keragaman genetik tinggi dan berkerabat jauh. Sehingga Widyasari menuturkan bahwa dengan adanya POJ 2878 seharusnya kini kita banyak belajar dengan melakukan perbaikan genetik pada tebu yang dicirikan dengan penambahan perolehan genetik yang luar biasa dan berpeluang akan terjadi lompatan kemajuan genetik seperti POJ 2878.  “Kunci lain untuk mewujudkan mimpi menciptakan wondercane-wondercane baru yaitu melalui penyediaan koleksi plasma nutfah tebu yang meliputi kerabat-kerabat liarnya,” jelas Widyasari.

Widyasari menjelaskan P3GI merupakan lembaga riset satu-satunya di Indonesia yang memiliki koleksi plasma nutfah tebu dan kerabat liarnya (saccharum complex) yang cukup lengkap, yaitu terdiri dari genus Saccharum, Erianthus, Mischantus, tebu hybrid rakitan sendiri, dan introduksi dari negara lain.  Lanjut dirinya menjelaskan, P3GI sejak tahun 2009 telah melakukan terobosan baru melalui program introgresi. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mewujudkan kejayaan pergulaan di masa lampau dengan cara memperluas dasar genetik tetua persilangan dan keturunannya. “Melalui program introgresi sifat-sifat menguntungkan dari genus lain pada kelompok Saccharum complex yaitu Erianthus sextion Ripidium, diharapkan mampu memperluas dasar genetik tetua persilangan,” ujar Widyasari. Pemilihan Erianthus sextion menurut Widyasari didasarkan pada keunggulan genus Eranthius yang tidak dimiliki oleh varietas tebu komersial, yaitu pertumbuhan cepat, tegak, tinggi, jumlah batang rapat, biomassa tinggi, tahan kepras, tahan cekaman kekeringan, dan genangan.

Pengambil alihan POJ 2878 oleh pemerintah menambah “sepi” nya proses pemuliaan tanaman dengan menghasilkan varietas unggul seperti di masanya.  Widyasari menuturkan di sisi lain klon-klon hasil ekspedisi yang dilakukan oleh P3GI belum ada yang dimanfaatkan dalam perakitan varietas tebu unggul masa kini. Lanjut dirinya menceritakan, sejak tahun 2009 P3Gi telah melakukan terobosan baru yaitu melakukan persilangan antar genus yang belum pernah dilakukan sebelumnya.Pada masa-masa sebelumnya menurut peneliti tersebut, perkawinan kerabat liar yang sudah pernah dilakukan sebelumnya menggunakan S. spontaneum.“Sedangkan pada tahun 2009, P3GI menggunakan kerabat liar dari genus Erianthus dalam program perakitan varietas tebu unggul baru,” ungkap Widyasari.

Widyasari menjelaskan, dalam perajalanannya dari hasil persilangan tersebut dihasilkan keturunan yang menunjukan potensi unggul yang telah dibuktikan dari keturunan pertama (F1).“Hasil yang sangat membanggakan telah terlihat dengan persilangan satu kali saja, hasilnya telah memberikan harapan melebihi varietas standarnya,” jelas Widyasari.Kebanggaan tersebut ditunjukkan dengan capaian potensi rendeman beberapa klon F1 yang mencapai 12% bahkan hingga 14%. Beberapa klon lagi memberikan potensi hablur lebih dari 200 kw/ha di lahan percobaan. Namun Widyasari menyayangkan masih adanya kekurangan yang ditemukan dari percobaan tersebut.Dirinya menjelaskan bahwa ternyata antara hasil tebu dengan rendeman korelasinya tidak positif.“Klon yang potensi hasil tebunya tinggi, potensi hasil tebunya rendah.Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan rata-rata rendeman tinggi karena periode puncak kemasakannya yang singkat,” jelas Widyasari.

Namun kekurangan dan kegagalan sejatinya menjadi sebuah semangat yang harus terus dijaga untuk menghasilkan varietas-varietas unggul melalui percobaan-percobaan klon-klon yang dimiliki oleh P3GI. Widyasari dan para peneliti P3GI optimis di masa mendatang akan dihasilkan varietas unggul untuk mengembangkan industri gula tebu indonesia. “Walaupun inovasi P3GI masih perlu pengujian lebih lanjut dalam skala lahan yang lebih luas, namun terobosan yang dilakukan P3GI telah sejalan dengan perlunya membuat strategi perkawinan tebu untuk memperluas dasar genetik varietas tebu komersial,” pungkas Wiwit Budi Widyasari.  Menurutnya apa yang dilakukan oleh nya dan bersama peneliti lainnya di P3GI telah memberikan pengetahuan baru mengenai tebu, yakni jawaban atas pertanyaan mengapa perakitan varietas tebu unggul baru cenderung mengalami leveling off dalam keragaman. Kedepannya Widyasari dan P3GI tetap optimis dan memiliki mimpi yang harus diwujudkan untuk menghasilkan terobosan baru dalam mempercepat pembentukan varietas tebu unggul spektakuler seperti POJ 2878 di masa mendatang.