N7 Jawab Permintaan Raw Sugar

pabrik-gulaok

SI,Jakarta- Meski mengaku sudah memiliki rendemen cukup  tinggi, tak membuat PTPN VII berhenti untuk meminta izin impor raw sugar. Tahun ini saja, PTPN VII meminta jatah impor gula mentah sebanyak 50.000 ton. Natsir mengklaim, upaya PTPN VII mengimpor gula mentah sebagai bentuk untuk melengkapi peluang hari yang tersisa berdasarkan kapasitas yang mereka miliki. “Kita kalau mau baik, ya raw sugar ini kan bisa langsung dimasak nah ini bisa bersamaan (dengan tebu),” kata M. Natsir, Direktur Produksi PTPN VII.

              Natsir menampik jika upaya PTPN VII meminta impor gula mentah ini membuat rembesan gula menjadi semakin tak terkendali. Menurutnya, hal ini harus diihat dari kebutuhan sebenarnya antara industri makanan dan minuman dengan kebutuhan gula langsung (konsumsi). Ia yakin jika kebutuhan gula di Indonesia dibuat dengan sebenarnya, rembesan gula rafinasi tidak akan terjadi. “Raw sugar hanya sebagai pelengkap. Sebenarnya untuk rembes harus ada pembatas untuk industri mamin dan untuk konsumsi,” klaim Natsir.

Siap-siap SNI GKP dan AEC 2015

         Sementara itu, penerapan SNI Gula Kristal Putih (GKP) yang sedianya akan diterapkan wajib pada tahun 2015 juga menjadi landas pacu bagi PTPN VII untuk terus berbenah. “SNI masih terus berjalan. Masih ada ISO yang harus kita jalani. Kami berbenah di pabriknya. Kami usahakan dan acuannya tetap ke SNI,” jelas Natsir.

         Sebelumnya, pada survey kesiapan implementasi SNI Gula Kristal Putih (SNI 3140.3:2010), PG di PTPN VII mengaku masih dalam proses sertifikasi ISO 9001:2008. Beberapa hal yang mendukung percepatan penerapan SNI khusus di PTPN VII adalah dengan mengikuti pelatihan kepada karyawan untuk pengembangan mutu produk seperti pelatihan ISO 9001:2008 tahun 2012, pendampingan set up ISO 9001:2008 tahun 2013 dan pelatihan Chemicer Yunior. Sementara itu, proses sertifikasi HACCP dan ISO 22000 di tubuh PTPN VII akan dilakukan terintegrasi dalam Sistem Manajemen Terpadu (SMT) dan sejauh ini dalam tahap review prosedur (Road Map SMT). Untuk SOP pengolahan gula di PTPN VII sendiri selalu di audit setiap 15 hari sekali.

        Lain lagi dengan akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean atau Asean Economic Community (AEC) 2015. Menurut Natsir, Indonesia akan bisa bersaing jika produktivitas mencapai 8 ton gula per hektar alias produksi tebu sebanyak 90 ton dengan rendemen 9. PTPN VII, kata Natsir, sudah menuju ke arah sana. Program 89 menjadi roadmap tiga tahun ke depan. “Kami mengarah ke hablur atau gula atau gula 8 ton per ha, dengan ton tebu per ha 90 rendemen 9, ini sampai 2016. PG Bunga Mayang punya HGU sendiri yang sudah 9, hanya saja yang lahan di petani di sekitar PG Bunga Mayang belum sampai segitu rendemennya,” kata Natsir soal program 89.

(cici)