Pabrik Gula Terancam Tutup, Pegawai Ketar-ketir

116108_475

SI,Jakarta- Wacana penutupan Pabrik Gula (PG) Sindanglaut di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat akibat merosotnya harga jual gula lokal membuat para karyawan merasa cemas. Salah satu karyawan, Dawud, mengatakan pemerintah harus bertanggung jawab kepada sekurangnya 3.000 orang karyawan yang akan kehilangan pekerjaan.

“Bahkan pemerintah tidak cukup memikirkan 3.000 orang tersebut. Masing-masing memiliki anggota keluarga yang nasibnya bergantung pada keberadaan pabrik,” kata Dawud, di Cirebon, Rabu 25 Maret 2015.

Dawud berpendapat, rencana ditutupnya PG Sindanglaut sebagai dampak dari kebijakan pemerintah terhadap impor gula rafinasi yang berlebihan. Tidak hanya itu, gula rafinasi yang seharusnya diperuntukkan bagi pabrik-pabrik pengolah makanan dan minuman tersebut juga merembes ke pasar konsumen secara langsung.

“Harusnya gula rafinasi itu dijual untuk pabrik-pabrik, tapi mengapa selalu bocor dan jual di pasaran. Itulah yang bisa menghancurkan produksi gula dalam negeri,” tukas Dawud.

Wacana penutupan PG. Sindanglaut ini menguat setelah Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro, mengatakan akan ada penutupan kembali satu pabrik setelah PG. Karangsuwung.

Penutupan dua pabrik di Kabupaten Cirebon ini, seperti yang juga disampaikan oleh Direktur Keuangan PT. PG Rajawali II (RNI Group), M. Zainal Abidin, dimaksudkan untuk mengurangi beban kerugian mencapai ratusan miliar yang kerap diterima perusahaan pelat merah tersebut setiap tahunnya.

“Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menutup (PG. Sindanglaut),” ujar Zainal.

Zainal menambahkan, kebijakan tersebut sangat bergantung pada tidak terkendalinya proses impor gula rafinasi. Akibatnya, ratusan ribu ton gula lokal tak bisa dijual dan menumpuk di gudang.

(Metrotvnews.com)

“Kalau impor sugar raw ini tidak dihentikan, dijamin pabrik gula kami tidak bisa menggiling. Harga kebutuhan produksi semakin tinggi sedangkan harga jual jatuh,” kata Zainal.

Mengenai nasib 3.000 orang karyawan yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan pabrik, menurut Zainal, pihaknya akan terus berusaha memberikan solusi terbaik agar keadaan tidak semakin terpuruk.

“Prinsipnya jangan sampai karyawan rugi, tapi di sisi lain beban perusahaan terlalu berat jika impor tidak dihentikan,” jelasnya.