Pemangkasan Anggaran Kemenperin Hambat Swasembada Gula

IMG_1472

SI,Jakarta- Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, mengkhawatirkan terhambatnya swasembada gula akibat dari pemangkasan anggaran kementerian perindustrian. “Akan menunda target 5-6 tahun swasembada gula kristal putih dan rafinasi kita,” tandasnya.

Ia menjelaskan, anggaran Kementerian Perindustrian sebesar Rp 300 milyar di antaranya semula dialokasikan untuk restrukturisasi mesin-mesin gula dan swasembada gula akan dipangkas sebesar Rp 20 milyar. “Ada beberapa dampak dari pemotongan anggaran sebanyak Rp 20 miliar itu,” tuturnya.

Pemangkasan tersebut nantinya berujung pada penurunan produktivitas pabrik GKP yang masih menggiling tebu dengan mesin tua.“Karena mesin-mesin gula tua sejak jaman penjajahan Belanda tak jadi diperbaharui,” tambahnya.

Tidak hanya menghambat revitalisasi PG, pemangkasan anggaran ini berdampak pula pada penundaan peningkatan rendemen. “Jadi produktifitas mesin pengolahan gula yang semestinya bisa meningkatkan rendemen gula, menjadi tak meningkat,” lanjut Rusman.

Ia juga menjelaskan bahwa selain menggenjot di masa proses penanaman tebu, peningkatan rendemen juga bisa diraih pada tahap distribusi dan pengolahan di pabrik gula. kelambatan dalam proses pengolahan gula di pabrik secara tidak langsung menghambat pergerakan truk pengangkut gula. Truk akan mengantre dalam waktu yang lama sehingga zat gulanya menguat dan rendemen berkurang. “Padahal rendemen gula merupakan tolak ukur harga gula pasir putih di pasaran,” ujar Rusman.

Pemangkasan anggaran Kementerian Perindustrian juga akan menghambat rencana pembuatan mesin gula rafinasi dalam negeri. Padahal, mesin tersebut mutlak dibutuhkan untuk menekan gencarnya impor raw sugar untuk diolah menjadi gula rafinasi. Selama ini Indonesia mengimpor raw sugar dari Thailand. “Diolah sedikit, baru kemudian digunakan untuk minuman-makanan kemasan, seperti dari Unilever, Indofood,dan lain-lain,” tuturnya.

(www.tempo.co)