Petani Minta Jokowi Stop Impor Gula dan Garam

demo petani gula_Andy Sam (11)

SI,Jakarta- Petani tebu dan garam menuntut Presiden Joko Widodo menghentikan impor gula dan garam. Menurut mereka, gula dan garam impor mengancam keberlangsungan hidup petani.

“Kenapa harus impor? Padahal banyak gula yang menumpuk di pabrik,” kata Ketua Paguyuban Petani Pelangi, Anton Sudibyo, yang berprofesi sebagai petani gula.

Anton dan sekitar sepuluh petani tebu dan garam menyampaikan keluhan tersebut di kantor Tempo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 20 November 2014.

Anton mengeluhkan harga gula tebu yang kini jatuh dari Rp 570 ribu menjadi hanya Rp 410-420 ribu per ton. Adapun pengusaha pabrik gula dan makelar lebih tertarik menjual gula impor karena mendapatkan komisi Rp 1.000 per kilogram gula yang terjual. (Baca:

Petani garam mengeluhkan hal serupa. Panen garam pada Agustus, September, dan Oktober seolah-olah tak membawa hasil apa pun lantaran pemerintah lebih berfokus pada garam impor dari India dan Australia. Alasan impor yang diberitahukan kepada mereka adalah kualitas garam lokal kalah baik.

“Kadar NaCl (natrium klorida) garam impor 97, sementara lokal 94,” kata Dias Eko, petani garam dari Jawa Tengah. Ditambah dengan harga yang lebih murah, tentu garam impor jauh lebih diminati ketimbang lokal.

Sistem impor yang menekan produk lokal terus-terusan ini dikhawatirkan akan membuat target swasembada gula dan garam pada 2017 mendatang menjadi sekadar wacana. Para petani berharap Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Presiden Jokowi menghentikan impor gula dan garam, kemudian mengevaluasi cara untuk memajukan produk lokal.

Petani juga berharap pengalihan subsidi bahan bakar minyak ke sektor infrastruktur benar-benar dilakukan. Mereka meminta jalan-jalan di tambak dan pantai diperbaiki agar pembeli lebih mudah mencapai tempat produsen. Selain itu, alat pabrik pun perlu dipercanggih agar peningkatan kualitas bisa tercapai.

Kebijakan tata niaga garam dan gula pun diharapkan dapat dievaluasi kembali oleh pemerintah. “Sebab sekarang tak berpihak pada petani, dengan impor besar-besaran dan importir yang itu-itu saja,” katanya.

(tempo.co)