Saat MEA, Thailand Ancam Industri Gula Indonesia

negara-afta-manajemenproyekindonesia

SI, Jakarta- Membanjirnya komoditas gula asal Thailand yang kualitas dan harganya lebih kompetitif bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan industri gula Indonesia saat pemberlakukan Masyarakat Ekononi ASEAN pada 2015.

“Kalau bisa ditunda, tentu kami usul pemberlakuan MEA diundur hingga industri gula nasional benar-benar siap. Ancaman paling serius memang membanjir produk gula dari Thailand,” kata Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Subiyono kepada wartawan di Pabrik Gula Kremboong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu.

Subiyono mengemukakan hal itu menanggapi tantangan dan kesiapan industri gula dalam negeri saat diberlakukannya pasar besar di kawasan Asia Tenggara, yang efektif diterapkan pada akhir 2015 atau awal 2016.

“Kalau mau jujur, industri gula kita masih kalah kompetitif dengan Thailand. Tapi, mau tidak mau atau suka tidak suka, kita harus siap menghadapi tantangan tersebut,” katanya di sela acara temu lapangan 300 praktisi gula bertema “Membedah Industri Gula di Jatim” yang diselenggarakan Ikagi.

Menurut Subiyono, Thailand merupakan salah satu negara produsen gula dunia dengan total produksi mencapai lebih dari 10 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan lokalnya hanya sekitar 2 juta ton per tahun, sehingga kelebihan produksinya diekspor ke sejumlah negara.

Selain jumlah produksi yang besar, industri gula di “Negeri Gajah Putih” itu juga sangat efisien dengan biaya pokok produksi gula yang hanya berkisar Rp4.500-Rp5.000 per kilogram.

Sedangkan produksi gula Indonesia masih sekitar 2,5 juta ton yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi, sementara untuk gula industri makanan dan minuman masih harus diimpor. Adapun biaya pokok produksi gula di Indonesia juga tinggi mencapai Rp8.070 per kilogram.

“Artinya, meskipun komoditas gula asal Thailand yang masuk ke Indonesia dikenakan tambahan tarif, tetap saja harganya lebih rendah dibanding biaya pokok produksi gula kita. Kalau gula kita mau bersaing, salah satu upayanya harus melakukan efisiensi dan menekan biaya produksi serendah mungkin,” kata Subiyono.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X (Persero) itu, mengungkapkan selama lima tahun terakhir (2009-2013), biaya pokok produksi gula petani meningkat sekitar 58 persen, dari awalnya hanya Rp5.100 menjadi Rp8.070 per kilogram.

Kenaikan biaya pokok produksi itu tidak sebanding dengan harga lelang gula yang selama periode sama hanya naik sekitar 22,88 persen, dari rata-rata Rp7.056 per kilogram pada 2009, menjadi Rp8.671 per kilogram pada 2013.

“Bahkan, tahun ini harga lelang gula lebih rendah lagi di bawah HPP (harga pokok penjualan) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp8.500 per kilogram. Beberapa waktu terakhir, harga lelang gula berkisar Rp8.100-Rp8.200 per kilogram dan itu sangat meresahkan kalangan petani dan produsen gula nasional,” tambah Subiyono.

Menurut ia, menekan biaya pokok produksi gula memang tidak mudah, karena banyak kendala pada pabrik gula yang sebagian besar usianya sudah tua. Namun, langkah diversifikasi dengan memanfaatkan produk turunan tebu harus dikerjakan untuk mendapatkan nilai tambah bagi perusahaan, seperti yang sudah dilakukan di beberapa negara produsen gula dunia, salah satunya Brazil.

Sekretaris Jenderal Ikagi Aris Toharisman menambahkan untuk menghadapi MEA, perusahaan gula harus mampu meningkatkan daya saing, salah satunya dengan menekan biaya produksi yang besarannya minimal setara dengan harga gula impor yang masuk di pelabuhan Indonesia.

“Kalau biaya pokok produksi bisa ditekan hingga menjadi Rp6.500 per kilogram, industri gula nasional bisa bersaing dengan komoditas gula dari Thailand. Ini memang tantangan berat dan perlu dukungan semua pihak, termasuk pemerintah,” kata Aris yang juga Direktur Pusat Penelitian Pabrik Gula Indonesia (P3GI).

Menurut Aris, sejumlah langkah revitalisasi yang telah dilakukan PTPN X (Persero) melalui otomatisasi mesin untuk efisiensi biaya operasional tenaga kerja, pemanfaatan ampas tebu sebagai pengganti bahan bakar minyak dan diversifikasi produk turunan tebu, bisa menjadi acuan untuk membangkitkan industri gula nasional. 

(skalanews.com)