Sepatutnya Riset Gula Diberdayakan

gula pasir putih

Oleh: Cici Wardini

Menjadi sebuah lembaga penelitian bagi komoditas yang kini diperbincangkan karena target yang tak kunjung tercapai membuat Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) mengemban amanah yang cukup berat bagi keberhasilan risetnya. Sudah 126 tahun berkarya dan melahirkan berbagai inovasi di bidang pergulaan, P3GI pantas mendapatkan pengakuan di negeri ini.

 

Berawal dari mewabahnya penyakit sereh dan persaingan kompetisi gula bit di Eropa, Belanda sadar betul bahwa untuk mengembangkan industri gula di Indonesia membutuhkan sebuah riset yang memadai. Kehadiran lembaga riset gula di Pasuruan dianggap mampu menjawab masalah yang dihadapi pabrik gula (PG) kala itu. Berlanjut pada era orde baru, P3GI pun menjadi corong dan ikut menentukan arah kebijakan gula Indonesia. Namun saat ini, sepertinya P3GI perlu “tenaga ekstra” menjadi wadah riset dan pengembangan gula di Indonesia.

Usia 126 bukan waktu yang sebentar, selama rentang waktu tersebut berbagai riset sudah banyak dilakukan dari hulu hingga ke tingkat hilir. Beberapa kekayaan yang dimiliki P3GI selain SDM yang berkualitas adalah pabrik gula mini dan koleksi plasma nutfah yang berjumlah 6000 buah. Jumlah ini melebihi plasma nutfah kepunyaan Thailand yang hanya sekitar 400 buah. Padahal Thailand sendiri adalah salah satu pengekspor gula terbesar ke Indonesia. Dengan jumlah tersebut Aris mengklaim jika petani bisa mendapatkan tebu yang diinginkan. “Mau tebu kayak apapun bisa misalnya tebu tahan kekeringan. Tetapi kan perlu dana, sebab dari jumlah itu perlu kita karakteristikan lagi,” ujar Aris.

Tak hanya plasma nutfah, untuk varietas saja P3GI sedikitnya sudah memiliki 100 varietas. Upaya menghasilkan varietas ini setidaknya membutuhkan waktu selama 12 tahun dengan dana yang tak sedikit. Kondisi yang saat ini memaksa P3GI menjadi lembaga yang profit oriented membuat pengembangan varietas berjalan tak optimal. Ini yang membedakan tebu dengan kelapa sawit. Di kelapa sawit, petani dan pengusaha perkebunan sangat tergantung pada kecambah maupun bibit, sementara di tebu, petani bisa memperbanyak sendiri. Pun jika hanya meminta selonjor tebu, maka tanaman ini akan mudah diperbanyak. Ini pula yang membuat Aris harus berpikir keras agar P3GI tetap dapat melakukan riset dan tak bisa mengandalkan penjualan bibit tebu. “60% baik dari sisi SDM hingga alokasi dana itu ke arah pemuliaan atau perakitan varietas tebu, tetapi ini tidak menghasilkan (keuntungan-red) apa-apa,” kata Aris.

Tetapi bukan P3GI namanya jika tak tahan banting. Tak bisa mengandalkan cash flow dari penjualan bibit, P3GI sedari tahun 1990-an sudah menggodok pengolahan hasil samping tebu. “Jasa-jasa konsultasi membangun pabrik gula dan meningkatkan kapasitas pabrik gula dan pabrik ethanol, melakukan jasa konsultasi pengawalan, menjual produk pupuk dengan bermitra atau kami hasilkan sendiri pupuknya, inilah sumber dana kami agar terus berkarya,” tandas Aris. Berbekal sumber dana inilah penelitian di P3GI menjadi lebih berwarna misalnya saja dalam mengembangkan hilirisasi. Produk hilir tanaman tebu bisa menjadi berbagai macam jenis mulai dari produk antara seperti asam asetat, asam nitrat, liptoselulosa.

Diversifikasi produk lainnya seperti, monosodium glutamate (MSG), pasta pemanis menyerupai pasta gigi yang asalnya dari nira tebu, sirup glukosa, lilin, produk kosmetik seperti lipstik. Khusus berbasis tebu, ampas yang keluar dari pabrik dapat menjadi pakan ternak dan kertas. Dan yang saat ini umum dilakukan Pabrik Gula (PG) adalah produk tetes tebu (molasses). Tetes tebu memiliki senyawa yang baik yang bisa digunakan sebagai bahan baku fermentasi. Belum lagi minuman sari tebu yang saat ini marak menjadi jajanan pasar. “P3GI sudah membuat itu semua. Menggunakan varietas yang bagus dan higienis,” tandas Aris. Menurut Aris, tebu memiliki pohon industri yang tak kalah kompleks dari jenis tanaman lain. “Kita memiliki varian yang banyak dari sisi produk. Di dunia ada 1500 industri berbasis tebu dan 50 yang sudah komersial yang menggunakan bahan tebu atau sisa prosesnya,” lanjutnya.

Untuk itu pula, Aris menyarankan agar PG segera bergerak ke hilir. P3GI menurut Aris melakukan riset ke arah hilir agar nantinya dapat diintroduksi oleh seluruh PG di Indonesia. “Industri gula ke depan tidak boleh bertumpu pada single produk, harus ada diversifikasi produk. Apalagi kita importir terbesar maka harga gula akan berfluktuatif mengikuti harga gula dunia. Ketergantungan pada satu produk itu berbahaya, ketika turun, maka lost,” tandas Aris.

 

Bibit Unggul

Saat ini, P3GI memasarkan bibit unggul eks-kultur jaringan (G2) yang memiliki produktivitas tinggi untuk menyiasati sulitnya penambahan lahan tebu, terutama di Pulau Jawa. Generasi kedua ini sudah melalui tahap aklimatisasi dan dengan handling yang baik. P3GI juga melakukan pelatihan gratis bagi petani. Seperti yang dilakukan pada Oktober lalu, P3GI melakukan Pelatihan Tenaga Teknis Penangkar dengan Sumber Benih Bagal Mikro Generasi (G2) Kultur Jaringan. “Kami terus berinovasi menghasilkan varietas unggul, semisal PSJK 922 dan PS 881 yang mampu meningkatkan produktivitas gula hingga lebih dari 10 ton per ha,” tandas Aris. P3GI juga memiliki varietas unggul lainnya seperti PS 901 dengan potensi hasil tebu 86,6 ton/ha, rendemen 10,9% dan hablur 9,5 ton/ha. Lain lagi dengan PS 882 dengan potensi hasil tebu 113,1 ton/ha, rendemen 12,1%, dan hablur 13,7 ton/ha.

Bicara mata tebu yang dihasilkan, sepanjang perjalannya rata-rata setiap tahunnya P3GI menghasilkan 25 juta mata tebu. Begitu bongkar ratoon digalakkan pemerintah tahun ini, Aris mengaku menaikkan target menjadi 400%. “Awalnya kami sudah siapkan 150 juta mata, lalu kami turunkan 100 juta, karena dalam perjalanan dibuka peluang bibit-bibit yang bukan dari kultur jaringan dan pada akhirnya yang digunakan dari P3GI hanya 7,5 juta mata tebu,” kisah Aris.

Tak hanya kultur jaringan, sebenarnya P3GI juga sudah memiliki tebu hasil rekayasa genetika. Tebu transgenik ini membawa antisense gen pfp yakni salah satu enzim pendegradasi sukrosa yang berfungsi membungkam ekspresi gen pfp sehingga degradasi sukrosa tidak terjadi. Namun Aris mengaku masih banyak yang perlu dibenahi terutama permasalahan persepsi di Indonesia yang masih merasa tabu akan produk hasil rekayasa genetika. ”Sebenarnya peluang Indonesia melakukan hal lain sebelum rekayasa genetika masih banyak, tetapi kami tidak terburu-buru melepas. Kami tidak butuh pencitraan,” akunya.

Tetap ada asa yang diharapkan P3GI bagi kemajuan riset dan pengembangan gula ke depan. Namun komitmen yang dirasa kurang dari pemerintah membuat P3GI hanya bisa menunggu dan melihat. Ditegaskan oleh Aris untuk penyediaan bibit, pemerintah harus lebih sigap dalam hal penyediaannya. Sebut saja kebutuhan bibit di tahun 2014 yang harus dilakukan dua tahun sebelumnya. Sebagai lembaga swasta, P3GI menurut Aris sanggup memenuhi permintaan pemerintah. Tinggal dukungan dan komitmen yang jelas dari pemerintah bagi kemajuan riset di Indonesia. Aris berharap kejayaan lembaga penelitan berbasis gula dapat mengulangi masa jayanya saat era Soeharto dulu dimana dana dapat disisihkan dari hasil penjualan atau setiap kilogramnya dapat disisihkan untuk dana riset, termasuk pengadaan dana Sumbangan Masalah Pergulaan (SMP). Aris juga berharap P3GI dapat kembali dilibatkan dalam menyumbang pikiran terkait persoalan dalam kebijakan pergulaan nasional. “Zaman dulu padahal lebih gak jelas status kami tetapi jelas komitmennya. Saya yakin ke depan fungsi dan peran kami akan besar ke depan,” jelas Aris optimis.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO), Agus Pakpahan, melihat bahwa untuk membangun kesejahteraan petani tebu dapat dilakukan dengan pengembangan riset. Namun sekali lagi riset pun harus terbentur dengan minimnya dana yang digelontorkan. “Pada dasarnya bukan hanya melalui bea keluar, dengan mengurangi impor gula maka akan ada penghematan biaya yang bisa dialokasikan untuk riset dengan tujuan mengedepankan kesejahteraan petani tebu, namun apabila itu tidak dilakukan berarti pemerintah membiarkan petani tebu tetap miskin, itu pilihan,” ujar Ketua Umum GAPPERINDO tersebut.

Tidak hanya sampai disitu, posisi riset pun memiliki peran yang penting dalam membangun industrialisasi terhadap produk hilir tebu. Agus Pakpahan menilai bahwa dengan adanya pembangunan dan pengembangan industrialisasi produk hilir tebu, maka petani kedepannya akan mendapatkan nilai tambah seiring dengan adanya peningkatan permintaan yang tinggi terhadap bahan baku.