Sumber Benih Tebu dengan Teknik Kultur Jaringan

mula tanam tebu

Oleh : Untung Prasetyo

 Pemerintah telah mencanagkan swasembada gula nasional.Namun dalam perkembangannya, pergulaan nasional pun masih banyak kekurangan.Benih sebagai salah satu faktor yang mampu meningkatkan produktivitas tebu harus segera diperbaiki. Melalui kultur jaringan diharapkan benih tebu mampu mendukung perbaikan pergulaan nasional.

 Jauh sejak penjajahan kolonial Belanda, komoditas tebu pada dasarnya telah mendapatkan perhatian besar sebagai komoditas komersial.Pemerintah kolonial Belanda telah mengembangkan industri gula di Pulau Jawa karena faktor yang begitu mendukung, yaitu tanah yang subur dan ketersediaan tenaga kerja yang melimpah.Kebijakan tersebut pun berlanjut pada pemerintah Indonesia melalui perusahaan negara perkebunan dan perkebunan-perkebunan besar swasta di luar Pulau Jawa.Dalam perkembangannya, tanaman tebu juga diusahakan oleh petani tebu rakyat intensifikasi dengan sistem pergiliran areal tanam.Sebagai salah satu industri manufaktur tertua di Indonesia, industri gula Indonesia pernah merasakan era keemasan pada tahun 1930-an.

Dimana pada masa tersebut Indonesia menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Pada masa itu produktivitas pabrik gula sekitar 14,8% dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton dan ekspor gula menyentuh angka 2,4 juta ton. Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun industri gula Indonesia mengalami kemunduran dan sulit untuk bangkit, hingga pada akhirnya Indonesia menjadi salah satu importir gula di dunia pada saat ini.  Dari data yang dihimpun Dewan Gula Indonesia pada tahun 2005, menunjukkan pada periode 1991 hingga 2001, industri gula Indonesia mulai mengalami berbagai masalah. Salah satu indikatornya adalah volume impor yang terus meningkat dengan laju 16,66%, dan produksi gula dalam negeri menurun dengan laju 3,03% per tahun.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perekebunan, pada tahun 2014 diperkirakan kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi langsung rumah tangga maupun industri akan terus meningkat sejalan dengan meningkatknya jumlah penduduk. Diperkirakan pada tahun 2014 saja kebutuhan gula nsional mencapai 5,7 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diupayakan melalui Progran Swasembada Gula Nasional.Namun akankah program tersebut tercapai apabila produksi gula dalam negeri sendiri mengalami penurunan?Harus ada perbaikan yang dilakukan untuk mencapai swasembada gula nasional, baik on farm maupun off farm.Sasaran tersebut diusahakan secara bertahap dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 dengan langkah-langkah intensifikasi untuk peningkatan produktivitas tebu. Peningkatan tersebut sekiranya akan dapat dicapai dengan sinergitas seluruh aspek, diantaranya sistem manajemen industri gula, rehabilitasi tanaman, penyediaan bibit bermutu, ketersediaan dana, pupuk, hingga dukungan teknologi.

Salah satu faktor terpenting dalam perbaikan pergulaan nasional di skala on farm, pengadaan benih tebu yang berkualitas dalam skala besar, cepat, dan murah merupakan hal yang sangat diperlukan saat ini. Pengadaan benih pada tanaman tebu, khusunya yang akan dipanen secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai melalui teknik tradisional.

Didasari hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia(P3GI) bidang pemuliaan, Dr. Hermono Budhisantosa, menyebutkan Good Seed Makes a Good Crop, benih yang baik menghasilkan tanaman yang baik. Menurutnya peningkatan produktivitas gula nasional selayaknya dimulai dari penataan penggunaan benih.Dalam budidaya tebu telah dikenal standar mutu benih yang baik menyangkut kebenaran, kemurnian, dan kesehatan benih.Untuk menjamin hal itu, dirinya menjelaskan bahwa dalam budidaya tebu terdapat juga sistem penyediaan benih dengan pola penjenjangan.Namun dirinya menyayangkan dalam prakteknya, baik penjenjangan maupun sertifikasi mutu sering tidak terlaksana dengan baik.Dirinya menyebutkan, evaluasi kinerja kebun pembenihan tebu telah dilakukan P3GI tahun 2003 hingga 2004.Pengamatan dilakukan di 14 pabrik gula yang mewakili pabrik gula di Pulau Jawa. Berdasarkan pengamatan tersebut, Hermono menyebutkan bahwa P3GI mendapatkan hasil evaluasi yaitu secara umum 86% kebun pembenihan tebu di bawah kualifikasi dan sekitar 12% dari pembibitan tebu yang diamati memenuhi persyaratan. Sedangkan dari tingkat kemurnian tebu, P3GI mendapatkan hasil evaluasi sekitar 64% pembibitan tebu dilakukan sebagai persyaratan standar.“Hasil ini menggambarkan bahwa perkebunan tebu tidak memberikan perhatian serius pada kesehatan tebu pembibitan,” ungkap Hermono.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Hermono mengungkapkan bahwa sangat beresiko mengandalkan kebun penjenjangan konvensional terutama pada aspek kesehatan.Lanjut dirinya menjelaskan, penjenjangan konvensional dapat digunakan bila diiringi dengan penerapan sertifikasi mutu serta perbaikan sumber benih.“Perbaikan mutu benih bisa dilakukan dengan kultur jaringan sebagai salah satu alternatif,” ungkap Hermono. Secara teknis dirinya menjelaskan pada teknik kultur jaringan, bagian tanaman seperti protoplas, sel, jaringan dan organ ditumbuhkan dan diperbanyak dalam media buatan dengan kondisi aseptik dan terkontrol.  Salah satu manfaat menggunakan metode tersebut, yaitu mampu menghilangkan virus penyebab penyakit garis kuning (sugarcane yellow leaf virus), virus mosaik tebu (sugarcane mosaic virus), dan ratoon stunting disease (RSD).“Selain menyehatkan sumber benih, teknik ini merupakan upaya perbanyakan benih secara cepat.Perbanyakan melalui kultur jaringan juga meningkatkan penangkaran,” jelas peneliti P3GI tersebut.

Hermono menyebutkan untuk mencapai swasembada gula nasional, dapat pula dengan mengusahakan peningkatan produktivitas melalui penggunaan bongkar ratoon. Peningkatan produktivitas melalui program bongkar ratoon mencakup dua hal penting. Dirinya menyebutkan yang pertama adalah peningkatan karena berubahnya tanaman keprasan menjadi tanaman plant cane (PC). “Jika produktivitas keprasan diasumsikan 90% dari produktivitas tanaman sebelumnya, maka program bongkar ratoon dari tanaman keprasan ke tiga menjadi PC bila dilaksanakan dengan baik akan mengembalikan potensi produksi yang telah menurun hingga 65% menjadi 100%,” jelas Hermono. Yang kedua adalah peningkatan produktivitas dengan menggunkan benih bermutu.Di sinilah peran penggunaan benih G2 dalam meingkatkan produktivitas.“Dengan benih yang bebas dari penyakit serta kebenaran dan kemurnian varietas yang terjamin, produktivitas tebu dapat naik 25%, sedang produktivitas gula naik lebih dari 1%,” ujar Hermono Budhisantosa.

Pada dasarnya apapun yang akan dilakukan untuk mencapai swasembada gula nasional yang terpenting adalah keberlanjutan dari mutu tebu itu sendiri. Sehingga peningkatan produktivitas bukan menjadi suatu hal yang dilakukan untuk jangka pendek, melainkan harus diusahakan sebagai program dengan skala jangka panjang.Sangat ironis apabila peningkatan produktivitas tidak diiringi dengan penggunaan bibit yang bermutu, khususnya dalam masalah kesehatan.Program swasembada gula nasional merupakan agenda penting, namun alangkah pentingnya menjaga kualitas mutu dari benih tebu itu sendiri. Hermono mengungkapkan, benih kultur jaringan mampu memperbaiki sumber benih menjadi sehat dan murni sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Dengan berbagai kendala, penyaluran benih bermutu pada program bongkar ratoon nampaknya tidak memenuhi target.“Tidak terpenuhinya target penyaluran benih terutama kultur jaringan dalam program bongkar ratoon dikhawatirkan membuat peningkatan produktivitas tidak sejalan dengan yang diharapkan,” pungkas Hermono Budhisantosa.